10. Michael Jordan (Basket)
Jordan
mengambil keputusan itu untuk menghormati ayahnya, yang meninggal
dunia setahun sebelumnya, tapi dia kembali bermain pada musim 1995-1996
dan membawa timnya menikmati kemenangan. Dia kemudian memutuskan untuk
pensiun lagi (kali ini orang tidak kaget), sebelum kembali untuk dua
musim lagi dengan Washington Wizard hingga akhirnya menggantung
sepatunya untuk yang ketiga kali, dan pensiun terakhir pada 2003.
9. Rocky Marciano (Tinju)
Dia
memang sempat mempertimbangkan kembali naik ring pada 1959 ketika
Ingemar Johansson memenangkan gelar kelas berat dari Floyd Patterson,
tapi kemudian membatalkan rencana itu setelah beberapa bulan kembali ke
gym. Dia menyudahi kariernya dengan 49 kemenangan dari 49 pertandingan
(43 menang dengan KO). Dia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan
pesawat pada 1969, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-46.
8. Johan Cruyff (Sepak bola)
Johan
Cruyff adalah bintang timnas Belanda saat mencapai final Piala Dunia
1974 dan Piala Dunia 1978 di Argentina, meskipun tidak akan pernah
bermain dalam turnamen tersebut. Cruyff pensiun dari dunia sepak bola
internasional pada Oktober 1977 dengan alasannya saat itu keberatan atas
kediktaktoran militer yang berkuasa di Argentina masa itu.
Namun
pada 2008 Cryuff mengungkapkan alasan sebenarnya adalah karena dia dan
keluarganya mengalami percobaan penculikan di Barcelona setahun
sebelum turnamen dimulai.
"Untuk
bermain di Piala Dunia, Anda harus 200 persen sehat," ujarnya pada
sebuah radio Spanyol. "Ada saat ketika terdapat nilai-nilai lain dalam
kehidupan." Meski merupakan salah satu pemain terbaik sepanjang masa,
Cryuff hanya bermain 48 kali bersama Belanda, dan menyarangkan 33 gol.
Tanpanya, Belanda kembali mencapai final, tapi kalah dari tuan rumah
Argentina dalam babak perpanjangan waktu.
7. Bjorn Borg (Tenis)
Pada
1981 Bjorn Borg (43) adalah salah petenis top dunia. Dia memenangkan
11 gelar Grand Slam, memecahkan rekor kemenangan berturut-turut
terbanyak sepanjang sejarah tenis. Namun, setelah kalah dari saingannya
John McEnroe di US Open 1981, dia mulai kehilangan sinarnya dan hanya
bisa memenangkan dua pertandingan pada 1982 sebelum mengumumkan
pengunduran diri pada 1983.
McEnroe
memintanya mengubah keputusan tersebut, tapi Borg tertap berkeras.
Kabar tersebut mengejutkan semua orang di dunia tenis. Arthur Ashe
menuturkan kepada Sport Illustrated: "Saya rasa dia bisa memenangkan
Grand Slam (semua empat gelar besar dalam satu tahun). Tapi saat dia
pergi, tantangan sejarah tidak berarti apa-apa. Dia seperti Elvis atau
Liz Taylor atau sejenisnya." Borg mungkin bisa kembali, tapi tidak akan
pernah bisa menjadi pemain besar di ATP Tour lagi.
6. Florence Griffith-Joyner (Atletik)
'Flo-Jo'
adalah gadis kesayangan di Olimpiade Seoul 1988 saat dia berhasil
menyabet medali emas dalam cabang sprint 100m, 200m dan 4x100m. Ratu
sprint Amerika itu membukukan rekor 10,49 di pemanasan 100m Olimpiade
Korea Selatan dan 21,34 di final 200m Olimpiade Seoul â€" rekor dunia
yang bertahan sampai saat ini. Namun dia terus dihantui rumor
penggunaaan obat-obatan selama kariernya, meski tidak pernah gagal
dalam tes dan pensiun setelah Olimpiade.
Sepuluh
tahun kemudian dia meninggal dalam tidur karena serangan epilepsi
parah. Suaminya meminta tubuh Joyner diperiksa penggunaan steroid untuk
membersihkan namanya â€" tapi kemudian batal karena tubuhnya tidak
memiliki cukup urin di kandung kemih dan tes tidak bisa dilakukan secara
akurat dengan sampel biologi lain.
5. Bobby Fishcer (Catur)
Bobby
Fischer pecatur dari AS menjadi juara dunia pada 1972 setelah
mengalahkan Boris Spassky di pertandingan catur paling terkenal
sepanjang masa, tapi kemudian menolak bermain dalam beberapa kejuaraan
selama hampir 20 tahun.
Fischer
juga pernah dijadwalkan bertemu dengan Anatoly Karpov pada 1975 untuk
mempertahankan gelarnya tapi memutuskan untuk mundur.
Fischer
akhirnya bertemu lagi dengan Spassky di Yugoslavia pada 1992 meski PBB
melakukan embargo melarang mengadakan pertandingan olahraga resmi di
negara tersebut. Fischer menggelar konferensi pers saat Amerika
melarangnya bermain â€" yang berarti dia terpaksa menghabiskan sisa
hidupnya di pengasingan.
Dia
kemudian mengeluarkan beberapa pernyataan anti-Amerika, anti-Israel
dan anti-Semit, dan bahkan menulis surat pribadi mendukung Osama Bin
Laden tidak lama setelah 11 September 2001. Dia meninggal dunia karena
gagal ginjal pada 2008 saat tinggal di Islandia.
4. Pat Tillman (NFL)
Bintang
football Amerika Pat Tillman sedang menikmati karier sukses bermain
untuk Arizona Cardinals di NFL ketika dia memutuskan menolak kontrak $
3,6 juta dolar (sekitar Rp 33 miliar) karena bergabung dengan militer
Amerika.
Tillman
mengikuti beberapa operasi di Irak dan Afghanistan tapi meninggal
dengan tragis di pegunungan Afghanistan pada 2004. Pihak militer AS
mengklaim kalau Tillman terbunuh oleh tembakan lawan, tapi kemudian
terungkap kalau dia terkena tembakan dari pasukan teman (friendly fire)
ketika salah satu pasukan Sekutu menembak satu sama lain karena
kebingungan.
3. Shaun Tait (Kriket)
Shaun
Tait mengumumkan pengunduran dirinya dari kriket pada Maret 2012 untuk
memfokuskan diri ke Twenty20. Tait baru berusia 28 tahun, tapi masalah
pada punggungnya selama bertahun-tahun, ditambah rasa rindu terhadap
rumah selama tur, membuat Tait kehilangan semangat untuk bermain. Suatu
kehilangan besar untuk kriket.
2. Guy Roux (Sepak bola-mundur saat pertandingan)
Roux
berhasil mencetak sejarah ketika menjadi manajer Auxere selama 44
tahun dari 1961-2005, dan dibujuk kembali ke dunia sepak bola untuk
mengurus Lens pada Juni 2007. Tapi musimnya dimulai dengan buruk, dan
dia meninggalkan klubnya saat paruh waktu pertandingan keempatnya.
1. Juan Manuel Fangio (Balap F1)
Pembalap
asal Argentina itu mundur pada 1958 setelah memenangkan juara dunia
dalam empat musim. Dia total memenangkan lima gelar dunia dengan empat
tim yang berbeda dan rekornya tidak terpecahkan sampai Michael
Schumacher muncul 40 tahun kemudian.
Fangio bisa meraih lebih banyak prestasi jika dia mau, tapi memutuskan untuk mundur karena tidak perlu lagi membuktikan apapun.
Seperti
yang ditulis David Tremayne dalam obituari Fangio di Independent: "Dia
pensiun di Reims, di pertengahan 1958, dalam usia 47 tahun, memegang
kuat keyakinan kalau juara, aktor dan diktator harus berhenti saat
berada di atas."
0 komentar:
Posting Komentar